Senin, 18 April 2011

DISLOKASI PADA SENDI BAHU

Oleh: Eko Ardi p, M.Subhan Zuhdi, Tony Wahyu P, Satrio Yudi Er.,

Cedera pada bahu sering disebabkan karena lelah, tetapi sering juga terjadi pada pemain tennis, badminton, olahraga lempar dan berenang (internal violence/sebab-sebab yang berasal dari dalam).
Cedera ini biasa juga disebabkan oleh external violence (sebab-sebab yang berasal dari luar), akibat body contact sports, misalnya : sepak bola, rugby dan lain-lain.

Cedera dapat berupa:
1. luksasio / subluksasio dari artikulasio humeri
2. luksasio / subluksasio dari artikulasio akromio klavikularis
3. subdeltoid bursitis
4. strain dari otot-otot atap bahu (rotator cuff)
“luksasio = dislokasi”
Dislokasi adalah keluarnya bongkol sendi dari mangkok sendi atau keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkoknya. Bila hanya sebagian yang bergeser disebut subluksasi dan bila seluruhnya disebut dislokasi.
Sendi Bahu merupakan salah satu sendi besar yang paling sering berdislokasi.Ini disebabkan karena banyaknya rentang gerakan sendi bahu,mangkuk sendi glenoid yang dangkal serta adanya longgarnya ligament.
Tanda-tanda Dislokasi sendi bahu yaitu:
o   Sendi bahu tidak dapat digerakakkan
o   Korban mengendong tangan yang sakit dengan yang lain
o   Korban tidak bisa memegang bahu yang berlawanan
o   Kontur bahu hilang, bongkol sendi tidak teraba pada tempatnya
o   Lengkung bahu hilang
o   Tidak dapat digerak-gerakkan
o   Lengan atas sedikit abduksi
o   Lengan bawah sedikit supinasi

Dislokasi sendi bahu sering ditemukan pada orang dewasa, jarang ditemukan pada anak-anak.
Klasifikasi dislokasi sendi bahu:
o   Dislokasi anterior
o   Dislokasi posterior
o   Dislokasi inferior atau luksasi erekta
o   Dislokasi disertai faktur
o   Congenital
o   Traumatic
Dislokasi anterior
o   Dislokasi anterior lebih sering ditemukan
o   Kaput humerus berada dibawah glenoid, sub korakoid dan sub klavikuler
Gambaran klinis dislokasi anterior
            Terasa sangat nyeri serta gangguan pergerakan sendi bahu. Kontur sendi bahu menjadi rata karena kaput humerus bergeser ke depan.
Pengobatan
Dengan pembiusan umum
o   Metode hipocrates
o   Metode kocher
Tanpa pembiusan
o   Teknik menggantungkan lengan
Dislokasi rekuren dengan frekuensi yang tinggi memerlukan tindakan operasi seperti operasi menurut Putti-Platt, Bristow dan Bankart
Komplikasi
o   Kerusakan nervus aksilaris
o   Kerusakan pembuluh darah
o   Tidak dapat tereposisi
o   Sendi menjadi kaku
o   Dislokasi rekuren
Dislokasi posterior
o   Lebih jarang ditemukan
o   Trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna
Gambaran klinis dislokasi posterior
Terasa nyeri tekan serta benjolan dibagian belakang sendi. Tanda khas berupa light bulb karena adanya rotasi interna humerus.
Dislokasi Congenital
Congenital dislocation berhubungan dengan congenital deformities
Dislokasi Traumatic
Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
Dislokasi akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi.
Dislokasi Traumatic
Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
·         Dislokasi akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi.
·         Dislokasi kronik
·         Dislokasi berulang, terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid.

Fraktur Disloksi
Komplikasi lanjut
Kekakuan sendi bahu: Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu,  terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral ,yang secara otomatis membatasi Abduks.

PENYEBAB DISLOKASI
Dari segi Etiologi, Dislokasi disebabkan oleh:
1.      Cedera olah raga
Olahraga  yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.

2.      Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga seperti benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi
3.      Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
4.      Patologis : terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital penghubung tulang


Dari segi Patofisiologi,
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan ,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio erekta [dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi da bawah karakoid]

PENANGANAN DISLOKASI
Pertolongan pertama :
Hanya boleh dilakukan oleh seorang dokter, kecuali dalam keadaan terpaksa dimana di tempat kejadian tidak ada dokter yang terdekat, barulah kita berikan pertolongan pertama yaitu reposisi.
Reposisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1. Metode Stimson (lihat gambar)
metode ini sangat baik. Caranya penderita dibaringkan tertelungkup sambil bagian lengannya yang mengalami dislokasi, keluar dari tepi tempat tidur, menggantung ke bawah. Kemudian diberikan beban yang diikatkan pada lengan bawah dan pergelangan tangan, biasanya dengan dumbbell dengan berat tergantung dari kekuatan otot si penderita. Si penderita disuruh rileks untuk beberapa jam, kemudian bonggol sendi akan masuk dengan sendirinya.
Gambar 2. Cara reposisi dislokasi bahu dengan metode Stimson
2. Penderita dibaringkan terlentang di lantai. Si penolong duduk pada sisi sendi yang lepas. Kaki si penolong menjulur lurus ke dada si penderita, lengan yang lepas sendinya ditarik dengan kedua tangan penolong dengan tenaga yang eras dan kuat, sehingga berbunyi “klik”, ini berarti bonggol sendi masuk kembali.

Reduksi dengan menarik lengan ke depan secara hati-hati dan rotasi eksternal, serta imobilisasi selama 3-6 minggu
Teknik Hennipen
Secara perlahan dielevasikan sehingga bengkol sendi masuk ke dalam mangkok sendi.pasien duduk atau tidur dengan posisi 45o, siku pasien ditahan oleh tangan kanan penolong dan tangan kiri penolong melakukan rotasi kearahluar(eksternal) sampai 90o dengan lembut dan perlahan,  jika korban merasa nyeri, rotasi eksternal sementara dihentikan sampai terjadi relaksasi otot, kemudian dilanjutkan. Sesudah seraksasi eksternal mencapai 90o maka reposisi akan terjadi, jika reposisi tidak terjadi, maka............
Program rehabilitasi
Penanganan dislokasi pada sendi bahu dapat dilakukan dengan melakukan program rehabilitasi. Program Rehabilitasi secara umum terbagi menjadi Nonoperatif Manajemen dan Operatif manajemen.
a.       Non operatif Rehabilatation
Penanganan rehabilitasi non operatif bertujuan untuk mengoptimalkan stabilisasi sendi bahu,sebab komplikasi dislokasi berulang banyak terjadi.Menghindari maneuver yang bersifat provokativ dan penguatan otot secara hati-hati merupakan komponen penting dalam program rehabilitasi.
Minggu 0-2.Hindari provokatif posisi, termasuk eksternal rotasi,Abduksi,dan Distrak.Immobilisasi tergantung umur
§  kurang dari 20 tahun 3-4 minggu
§  20-30 tahun 2-3 minggu
§  Lebih dari 30- 10 hari sampai 2 minggu.
§  Lebih dari 40 tahun 3-5 hari
Program dilanjutkan secara bertahap untuk pemulihan fungsi sesuai prosedur rehabilitasi yang telah ditetapkan.
b.      Operatif Treatment
Tujuan utama rehabilitasi adalah
§  Menjaga integritas stabilitasi bedah kore
§  Memulihkan ROM fungsional secara full
§  Meningkatkan stabilitas Dynamik
§  Kembali aktivitas yang tak dibatasi dan olahraga
Diagnosa Fisioterapi
Gangguan fungsional Bahu akibat post Dislokasi Anterior bahu. Pemerikasaan tambahan spesifik
Problematik Fisioterapi
a.       Nyeri gerak
b.      Keterbatasan ROM
c.       Kelemahan otot
d.      Gangguan ADL
e.       Advance Aktivitas/Atlet
Tujuan Fisioterapi
Jangka pendek
a.       Mengurangi Nyeri gerak
b.      Meningkatkan ROM
c.       Meningkatkan kekuatan otot
d.      Meningkatkan fungsi ADL
e.       Memperbaiki power,endurance dan persiapan aktivitas normal

Jangka panjang
Meningkatkan aktifitas fisik dan kemampuan fungsional pasien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar